ERA PASCHA WIKARTA
XI MIA EKONOMI 2
SMAN 2 MATARAM
Makhluk Kecil Ciptaan
Tuhan
Sejak kecil, aku sama sekali tak
pernah memiliki pikiran bahwa aku akan memilikinya. Teringat saat ku kecil,
tepatnya saat berada di bangku taman kanak-kanak. Setiap kali ku melihatnya,
selalu terbesit pertanyaan mengenainya. Apakah itu?. Siapa dia? Darimanakah
asalnya? Mengapa ia ada disini? bagaimana ia bertahaan seorang diri disini?.
Aku selalu ingin bertanya pada guru
dan orangtuaku. Namun, pertanyaan itu selalu datang disaat ia tidak nampak.
Rasa penasaranku seakan menghilang dikala ia lama tak dijumpai. Menghilang
entah kemana. Pertanyaan-petanyaan itupun seakan hilang tak tahu kemana. Jarang
sekali aku melihatnya akhir-akhir ini. Tapi, akupun khawatir tentang dimana keberadaannya.
Aku selalu menyakan pada teman-temanku, guruku, bahkan setiap orang yang aku
jumpai. Namun mereka seolah tak mengerti apa yang aku maksudkan. “ apa yang
kamu cari sayang? Kamu terlihat sedih dan bingung” tanya guruku padaku saat aku
terdiam di ayunan sambil memasang wajah cemberut.
Ia lama sekali tak terlihat. Bahkan
saat aku lulus dan meninggalkan sekolah
taman kanak-kanakku pun ia tetap tak
terlihat. Teringat saat aku berada di bangku kelas dua di sebuah sekolah
dasar.. aku bertemu lagi dengannya. Tepat saat Papa menjemputku. Aku bertanya
padanya sambil menunjukkan maksud pertanyaanku. “ Papa, itu apa?”. “ oh itu,
kamu belum tahu ya sayang. Hmm tar Papa mau protes sama sekolah tk Nayra, itu
kucing sayang. Sama seperti kita dia itu ciptaan Tuhan.” Terang Papa. “ Kucing?
Tapi kenapa dia punya empat kaki Pa, kalo dia sama seperti kita dia kan
harusnya punya kaki dua?” tanyaku pada Papa. “ Iya karena Tuhan menciptakan dia
sebagai kucing sayang bukan sebagai manusia. Papa, Mama, Kakak, sama Nayra itu
ciptaan Tuhan, sama sepeti kucing itu.” Pa paku menjelaskan sambil menggenggam
tanganku untuk menuju ke mobil dan segera pulang.
Selama perjalanan ke rumah, aku
terus menyakan tentang kucing kepada Papaku. Walau terkadang Papaku terlihat
bingung mau menjawab pertanyaanku yang selalu aneh. Namun teringat perkataan
Papa “ Bagaimanapun, semua ciptaan Tuhan harus kita sayangi sama seperti Papa
sayang Nayra. Jangan sampai kita menyakiti sesama ciptaan Tuhan. Jadi, kalau
Nayra punya apapun, harus dirawat, dijaga, dan disayangi. Dengan begitu, tanpa
disadari, Nayra bersyukur akan apa yang diberi Tuhan melalui Papa ataupun Mama
untuk Nayra.” Mendengar perkataan Papaku, aku hanya terdiam dan tersenyum.
Sesampainya dirumah, aku sangat
antusias bercerita pada Mama. “ Ma, tadi aku ketemu sesuatu di sekolah. Kakiny
empat ma. Papa bilang kalau itu kucing. Baru tahu aku kalau itu kucing dan
ciptaan Tuhan. Sama seperti Nayra dan Mama.” Mamaku tersenyum dan terharu
mendengar ceritaku yang tak henti – henti. Sesekali Mamaku tersenyum pada
Papaku yang sedang duduk mendengarku bercerita. “ Nayra inget semua perkataan
Papa ya. Pintar sekali anak Papa yang jelek ini. Haha gemes.” Ucap Papaku
sembaring memeluk dan menciumku. “ Mama bangga sama Nayra.” Puji Mama padaku.
Waktu terus berlalu, Nyra sangat
gembira saat ia melihat kucing dimana saja. Inginnya dia pegang, namun
ketakutan mereka akan Nayra membuatnya tak bisa menyentuh hewan itu. Sempat
terpiki olehnya untuk memelihaa seekor kucing. Namun ia selalu mengurngkan niatnya
karena merasa belum siap merawatnya secaa utuh. “ pensil saja tak bisa kujaga, apalagi seekor kucing” piki Nayra
disaat ia memiliki keinginan untuk bicara pada oangtuanya akan apa yang ia
inginkan.
Hari-hari ia lalui dengan penuh
cerita. Ia selalu beusaha untuk merawat kucing dari jauh. Seperti memberi makan
pada kucing yang ia jumpai. Saat makan di suatu rumah makan, aku melihat seekor
kucing yang kurus dan merasa kelaparan. Mengeong dengan suara yang lantang.
Bahkan ada seseoang yang menendangnya. Merasa tak menerima, akupun langsung
beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri orang itu. “ Permisi, om kenapa
nendang kucing itu? Kata Papa dia itu ciptaan Tuhan juga, sma sepeti om.
Kasihan om” Ucapku smbil keluar menuju kucing itu. Untungnya ia mau dipegang.
Tak lama, Kakakku kelua membawa kotak makan yang ada di tasnya dan mengisinya
dngan nasi dan ayam yang ia makan. “ Ini dek, kasih ini aja. Biar kenyang”
katanya sambil menyodorkan tempat makan itu. “ Makasih kak, entarNayra ambil
lagi tempat makannya.” Kataku pada kakak.
Setelah itu, aku kembali dan
melanjutkan meghabiskan makananku. Aku datang dengan wajah yang sedih. Merasa
kasihan pada kucing itu. Membayangkan aku berada di posisinya. Keluarga mencoba
menghiburku dan menasihatiku agar tidak usah bersedih dan dipirkan. Saat
pulang, tak sengaja aku melihat oang tadi yang menendang kucing itu, sedang
memberikan minum pada kucing itu. Tak sengaja aku melihatnya dan ia membalik
melihatku. “ Setelah makan, takut kesedak. Om kasih minum aja” ucapnya tanpa
ekspresi. Tentu aku senang melihatnya.Terkadang aku merasa bangga terlahir
diantara keluarga yang sangat menyayangi apapun itu yang kita miliki.
Waktu semakin tak terasa,
keinginanku tetap ingin memiliki kucing.
Saat aku duduk di Bangku sekolah menengah pertama. Saat itu aku dan
keluarga pindah ke Jawa karena Papa yang dipindah tugaskan. Disana aku memiliki seekor kucing yang kuberi
nama Lusy. Ia kucing pendatang. Dengan senang aku rawat dia. Karena halaman rumah
yang luas dan banyak tanah diseitar tumbuhan,aku tidak repot membersihkan
kotorannya. Sehari ia makan tiga kali. Pagi, siang dan malam.
Tiba-tiba Lusy menghilang entah
kemana. Sekitar dua minggu lamanya ia hilang. Saat kembalike umah, aku terkejut
mendengar suara bayi kucing. Sesegera mungkin, aku keluar rumah dan melihat.
Seekor kucing kecil yang dibawa Lusy. Ya, dia adalah anak dari lusy. Sungguh
lucu rupanya. Kuberi ia nama Bubu. Semakin antusias merawat dan membesarkannya.
Hal yang buruk pun terjadi. Bubu
yang berusia sekitar lima bulan, harus siap ditinggalkan sang ibu, Lusy.
Kejadiannya tragis, Lusy saat itu keluar rumah pada tengah malam. Aku mendengar
suaranya mengeong seperti memanggil Bubu. Aku terbangun dan ditemani Mama
keluar rumah untuk mengecek ada apa dengan Lusy. Lusy yang biasanya datang saat
dipanggil, tak kunjung muncul. Kekhawatiranku semakin menjadi-jadi. Tetapi Mama
menenangkanku dan mengajakku kembali tidur. Walaupun kutahu kalau Mama juga
bingung. Karena Lusy sangat dekat dengan Mama.
Paginya, tepat saat aku keluar dari
gerbang rumah diantar Mama dan Papa. Papa yang saat itu sedng mengeluarkan
mobil dan Mama yang merapikan rambutku dan Kakak. Saat aku menuju kursi depan
mobil, sungguh terkejut melihat gumpalan darah segar di tengah jalan aya. “ Ma
itu apa?” tanyaku pada Mama yang mengantarku masuk mobil. “ astaga, itu siapa. Semoga bukan Lusy.” Ucap Mama
khawatir.
Sepulang sekolah, aku melihat Mama
menangis. “ Mama kenapa?” tanyaku. “ Lusy meninggal sayang, tadi pagi yang
Nayra lihat itu Lusy. Tadi Papa dan Mama lihat setelah Papa nganter kamu.”
Jelas Mama. Tangisku tak bisa dibendung
lagi. Sedih rasanya. Teringat saat Lusy menemani Mama saat sakit.
Setelah kepergian Lusy, Bubu
melahirkan empat orang anak yang beragam warnanya. Sungguh lucu dan
menggemaskan. Namun al serupa terjadi. Anak – anak Bubu yag masih berusia sekitar empat bulan harus ditinggalkan oleh
ibuny yang meninggal karena ditabrak. Untungnya ia diletakkan di pinggir jalan
sehingga tubuhnya tak hancur seperti Lusy. Sehari sebelum Bubu meninggal,
datang seekor kucing kecil yang kuberi nama Lily. Jadi keempat anak Bubu yakni,
Momo, Miki, Beki, Boni, dan Lusy.
Genap setahun, aku dan keluarga
memutuskan pindah rumah ke daerah lain. Tentu kucing-kucing kecil yang kumiliki
tetap kubawa ke rumah baru. Namun, Miki meninggal karena sakit.
Diruma baru itu, dua kucingku
menghilang. Keyakinanku akan mereka kembali sangat besar. Namun takdir berkata
lain.mereka tak kunjung kembali. Mau tak mau aku harus relakan Boni dan Lily.
Tak lama, seekor kucing cantik datang ke rumah dan menetap. Akhirnya kuberi
nama Keke. Tiga bulan kemudian, Keke melahirkan tiga anak kucing. Kuberi nama
Marco, eta, dan Duma. Momo, kucing keturunan yang masih hidup satu-satunya,
melahirkan berkali-kali. Namun hanya bebeapa yang hidup. Sehingga kucingku saat itu adalah Momo, Amber, tiga anak Momo,
Keke, Marco, Reta, Duma, dan Kelly. Yap, sepuluh kucing.
Genap dua tahun di Jawa, aku dan
keluarga kembali ke Mataram. Terpaksa harus meninggalkan kesepuluh kucingku di
Jawa. Untungnya ada seorang teman orangtuaku yang mau marawat mereka. Sedih
sungguh sedih pastinya tapi aku harus ikhlas. Jika itu memang yang terbaik.
Bahkan terpintas olehku untuk membawa mereka. Namun karena hukum dan ketetapan
yang tak bisa diubah dengan apapun, terpaksa aku tinggalkan mereka di sana
bersama orang lain. Hanya satu yang harus kulakukan yaitu ikhlas.
Dua minggu setelah kembali ke
Mataram, tanteku memberikan seekor kucing bernama cimi. Sugguh senang rasanya.
Apalagi aku bisa mudah berkonsultasi dengan tanteku yang memiliki 20 ekor
kucing dan telah memiliki dokter khusus untuk kucing.
Cimi tiba dalam keadaan hamil. Dan
tak lama, tiga ekor kucing datang. Lucky, ia seekor kucing yang baru saja
dioperasi karena ia ditemukan dalam keadaan yang sangat miris, kulit telinga
belakangnya terbuka entah karena apa, untung ia bertemu tanteku dan langsung
dioperasi. Aku mearawatnya harus sabar, karena Lucky selalu ngiler. Tetapi
lucunya, ia sangat suka dipangku, apalagi olehku. Ohiya, Lucky berwarna putih
dan oranye, namun idominasi putih, wajahnya ganteng sebagai seekor kucing jantan.
Selama tiga berada di rumah, Lucky tak pernah lepas dari obat dan dokter.
Kondisinya memburuk saat ia memiliki bengkak di tenggorokkan. Ia bergantung
pada obat dan dokter saat itu. Ia tak mau makan, dokter menyarankan untuk
memberinya cairan glukosa setiap tiga
jam sekali.
Bahkan aku biarkan dia tidur di
kasurku sedangkan aku tidur di sofa dekat kasurku. Aku tak ingin ia tak nyaman
selama ia sakit. Namun aku salut dengan Lucky, ia sanggup bertahan hidup
walaupun dalam kondisi terburuk dalam hidupnya. Lucky bertahan selama sekitar
dua minggu. Hal yang sangat membuatku terpukul adalah saat dua hari sebelum ia
meninggal. Aku menemaninya di kasur, entah kenapa aku langsung nangis tersedu.
“ hai Lucky ganteng sekali kamu. Cepet sembuh ya sayang, tapi kalau Lucky udah
gak kuat, jangan dipaksa ya sayang. Teteh terima apapun yang terjadi sama
Lucky. Nayra sayang Lucky.” Ucapku sambil menangis tersedu sedu.
Mungkin itu pertanda bahwa Lucky
akan meninggal. Detik-detik sebelum ia meninggal, aku kembali menangis saat
melihatnya berada di sofa ditemani Mama. “ Nayra, kayakya Lucky bentar lagi gak
ada nak.” Ucap Mama. Aku sepeti orang hanya terdiam dan melihat Lucky merasa
kesakitan, nafasnya seperti orang yang terkena asma. Aku sangat ingat saat
Luckyseperti mengambil nafas dalam-dalam lalu ia taak benafas lagi.
Aku langsung pergi menuju kamar mandi dan menangis. Akhirnya aku tahu ati akan
keikhlasan, kesabaran, dan kasih sayang. Hingga detik ini saja aku belum
seutuhnya move on dari kepergian
Lucky. Rasanya kehilangan sekali. Karena baru kali ini aku benar-benar merawat
seekor kucing yang mengalami kerasnya hidup. Tak tega rasanya jikalau yang aku
rawat nanti adalah manusia.
Tapi aku haru tersenyum, mungkin
Lucky sudah enak disana, ia tidak lagi harus merasakan sakit yang ia rasakan
selama hidup. Selain itu, aku masih punya Cimi, Jongguk, Cio, Cello, Kai,
Chaplin, Nomu, Olif, Iren, Changmin, dan
Sven. Banyak memang tapi itulah keseruanku dalam hidup. Sehingga aku tak harus memikirkan
galau karena tingkah lelaki. Sehari
sebelum aku menulis cerpen ini, satu kucingku meninggal namanya Chiko. Ia
meninggal tiba-tiba tanpa sakit attau apapun. Ia merupakan kucing yang manja
dan cerewet. Keluagaku mengira karena pengaruh pancaroba dan renovasi rumah
saat ini yang menimbulkan debu dan asap semen.
Aku merasa kucingku tak pernah
berkurang jumlahnya. Meskipun Lucky dan Chiko telah tiada, aku masih memiliki
jumlah kucing yang sama, yakni sebelas ekor.
Banyak sekali cerita yang kudengar
mengenai perilaku orang – orang terhadap kucing. Ada yang kasar dan jahat, ada
yang baik sekali hingga ia rela sakit karena terkena kotoran kucingnya saat ia
membersihkan kotoran-kotoran kucingnya, ada yang sayang dengan kucing namun tak
bisa memiliki karena terhalang ijin orangtua, bahkan ada juga orang yang tega
menyiksa, membuang, bahkan membunuh tak lebih dari satu ekor kucing.
Kisah yang sangat menyedihkan adalah
saat Nayra menonton televisi dan kebetulan ada tayangan mengenai kucing. Kucing
itu sangat setia pada majikannya. Ia dirawat sejak kecil oleh majikannya. Namun
saat majikannya meninggal, kucing itu datang dengan sendirinya ke pemakaman dan
membawa apapun yang bisa ia letakkan diatas makam majikannya. Pernah sesekali
ia tertangkap oleh kamera seorang peziarah di pemakaman itu. Terlihat kucing
itu membawa sehelai rumput di mulutnya dan berjalan menuju salah satu makam
yang ditujunya, tentunya makam majikannya. Begitu setianya dia pada sang
majikan. Nampak raut sedih diwajahnya saat fotonya dipampang di mana-mana.
Selain kisah menyedihkan, ada juga
kisah yang sangat – sangat miris, bahkan aku sampai kesal dibuatnya. Setega
itukah dia pada makhluk Tuhan. Kisah ini merupakan kisah nyata. Ada seorang
pria dan istrinya yang sangat jahat. Mereka tega menculik kucing siapapun. Lalu
mereka menyiksanya dengan sangat sadis. Terbukti sat kucing tanteku hilang
selama beberapa hari dan kembali pulang dengan keadaan lumpuh. Ia tak bisa
berjalan, hanya menyeret – nyeret tubuhnya agar dapat kembali pulang. Tentu
terkejut saat melihatnya. Aku sja yang mendengar ceritanya sudah sangat kasihan
apalagi aku melihatnya.
Kucing itu bernama Kimi, untungnya
ia bertahan hidup. Selama berbulan-bulan ia melalui penyembuhan. Syukur ia
dapat selamat. Namun ia mengalami cacat kaki bagian kiri. Tulangnya bengkok,
sungguh jelas terlihat. Untungnya ia masih bisa berjalan dengan normal. Kimi
memiliki trauma tersendiri, ia sama sekali tak mau dipegang, bahkan saat kita
mendekat saja ia langsung lari ketakutan. Wajah takutnya sungguh jelas
terlihat.
Selain itu,pernah juga orang itu
meletakkan karung misterius didepan rumah seseorang. Ia mengira itu hanya
sampah.namun ia sangat ingin membukanya. Saat dibuka, uuhh tak tega lagi ia
membukanya. Isi karung itu adalah seekor kucing yang telah dikerubungi
belatung. “ Tuhan, apa maksut orang jahat itu? Mengapa ada orang sejahat ini?”
pikirku dakam hati.
Pemilik rumah itu takut jika
ternyata kucing dalam karung itu adalah kucing miliknya yang telah lama
menghilang. Namun ia tak mau berpikir panjang. Biarkan saja, mungkin kucing itu
telah nyaman disana, tidak merasakan sakit lagi saat ia menghilang dan
meninggal dengan cara seperti itu. Tak senonoh rasanya.
Pernah juga orang hajaht ini
tertangkap basah oleh tetangganya. ia berniat keluar rumah dan mengintip –
intip keluar. Seperti takut ketahuan orang. Ia keluar perlahan menyelundup.
Tetangganya yang telah berdiri disamping mobilnya depan halaman umahnya hanya
tersenyum saat istri orang jahat itu menoleh ke arahnya. “ mati aku, ketangkap
deh” mungkin itu yang ada di benak wanita itu. Tetangganya itu kebetulan
memiliki banyak kucing dan sering sekali terjadi hal-hal buruk pada kucingnya.
Ada menghilang tiba-tiba, pulang dengan keadaan tak sehat, bahkan sampai ada
yang meninggal misterius.
Setelah kejadian itu, sepasang suami
istri ini merasa was-was karena telah tertangkap basah. Ada niatan tanteku dan
Mamaku untuk melaporkan polisi atas apa yang terjadi. Namun kurangnya bukti
membuat mereka mengurungkan niatnya dan berusaha mengumpulkan bukti.
Terkadang aku heran, jahat sekali
orang itu. Jika memang ia tak suka kucing, berusahalah untuk tidak
menyakitinya. Biarkan saja atau ia pergi menjauh saat ada kucing didekatnya.
Hal-hal seperti inilah yang
membuatku gerah. Amarahku bahkan membara. Terpikir untuk membuat orang itu
jera. Namun, lelah juga meladeni watak orang yang berbeda.
Keinginanku adalah membuat
penangkaran kucing saat aku mampu nanti. Sehingga tak ada kucing yang
terlantar. Jika ada yang hendak membuang kucing, letakkan saja di
penangkaranku. Aku ingin penangkaranku nanti memilikim fasilitas yang memadai
dan ada pula fasilitas dokter untuk merawat yang sakit.
Dari hewan kecil ciptaan Tuhan
inilah akubisa belajar dan mengerti akan arti keikhlasan dan kesabaran. Kasih
sayang yang tulus akan membuat kucing merasa aman. Makhluk kecil ini, dapat
membedakan orang yang benar-benar sayang padanya dan orang yang tak sayang
padanya. Meskipun terkadang menyebalkan, namun itulah imutnya mereka. Saat
lelah pun asanya hilang saat melihat mereka menyambutku pulang.
Hal yang bisa kupetik dari merawat makhluk kecil ciptaan
Tuhan ini adalah keikhlasan, kesabaran,
dan kasih sayang mereka yang mungkin menurut orang mereka tak memiliki kasih
sayang. Padahal dari hewan kecil inilah aku bisa mengerti kasih sayang sesama
melalui kucing ini, makhluk kecil ciptaan
Tuhan ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar