Sabtu, 29 November 2014



ERA PASCHA WIKARTA
XI MIA EKONOMI 2
SMAN 2 MATARAM


Makhluk Kecil Ciptaan Tuhan
            Sejak kecil, aku sama sekali tak pernah memiliki pikiran bahwa aku akan memilikinya. Teringat saat ku kecil, tepatnya saat berada di bangku taman kanak-kanak. Setiap kali ku melihatnya, selalu terbesit pertanyaan mengenainya. Apakah itu?. Siapa dia? Darimanakah asalnya? Mengapa ia ada disini? bagaimana ia bertahaan seorang diri disini?.
            Aku selalu ingin bertanya pada guru dan orangtuaku. Namun, pertanyaan itu selalu datang disaat ia tidak nampak. Rasa penasaranku seakan menghilang dikala ia lama tak dijumpai. Menghilang entah kemana. Pertanyaan-petanyaan itupun seakan hilang tak tahu kemana. Jarang sekali aku melihatnya akhir-akhir ini. Tapi, akupun khawatir tentang dimana keberadaannya. Aku selalu menyakan pada teman-temanku, guruku, bahkan setiap orang yang aku jumpai. Namun mereka seolah tak mengerti apa yang aku maksudkan. “ apa yang kamu cari sayang? Kamu terlihat sedih dan bingung” tanya guruku padaku saat aku terdiam di ayunan sambil memasang wajah cemberut.
            Ia lama sekali tak terlihat. Bahkan saat aku lulus dan  meninggalkan sekolah taman kanak-kanakku pun ia  tetap tak terlihat. Teringat saat aku berada di bangku kelas dua di sebuah sekolah dasar.. aku bertemu lagi dengannya. Tepat saat Papa menjemputku. Aku bertanya padanya sambil menunjukkan maksud pertanyaanku. “ Papa, itu apa?”. “ oh itu, kamu belum tahu ya sayang. Hmm tar Papa mau protes sama sekolah tk Nayra, itu kucing sayang. Sama seperti kita dia itu ciptaan Tuhan.” Terang Papa. “ Kucing? Tapi kenapa dia punya empat kaki Pa, kalo dia sama seperti kita dia kan harusnya punya kaki dua?” tanyaku pada Papa. “ Iya karena Tuhan menciptakan dia sebagai kucing sayang bukan sebagai manusia. Papa, Mama, Kakak, sama Nayra itu ciptaan Tuhan, sama sepeti kucing itu.” Pa paku menjelaskan sambil menggenggam tanganku untuk menuju ke mobil dan segera pulang.
            Selama perjalanan ke rumah, aku terus menyakan tentang kucing kepada Papaku. Walau terkadang Papaku terlihat bingung mau menjawab pertanyaanku yang selalu aneh. Namun teringat perkataan Papa “ Bagaimanapun, semua ciptaan Tuhan harus kita sayangi sama seperti Papa sayang Nayra. Jangan sampai kita menyakiti sesama ciptaan Tuhan. Jadi, kalau Nayra punya apapun, harus dirawat, dijaga, dan disayangi. Dengan begitu, tanpa disadari, Nayra bersyukur akan apa yang diberi Tuhan melalui Papa ataupun Mama untuk Nayra.” Mendengar perkataan Papaku, aku hanya terdiam dan tersenyum.
            Sesampainya dirumah, aku sangat antusias bercerita pada Mama. “ Ma, tadi aku ketemu sesuatu di sekolah. Kakiny empat ma. Papa bilang kalau itu kucing. Baru tahu aku kalau itu kucing dan ciptaan Tuhan. Sama seperti Nayra dan Mama.” Mamaku tersenyum dan terharu mendengar ceritaku yang tak henti – henti. Sesekali Mamaku tersenyum pada Papaku yang sedang duduk mendengarku bercerita. “ Nayra inget semua perkataan Papa ya. Pintar sekali anak Papa yang jelek ini. Haha gemes.” Ucap Papaku sembaring memeluk dan menciumku. “ Mama bangga sama Nayra.” Puji Mama padaku.
            Waktu terus berlalu, Nyra sangat gembira saat ia melihat kucing dimana saja. Inginnya dia pegang, namun ketakutan mereka akan Nayra membuatnya tak bisa menyentuh hewan itu. Sempat terpiki olehnya untuk memelihaa seekor kucing. Namun ia selalu mengurngkan niatnya karena merasa belum siap merawatnya secaa utuh. “ pensil saja tak bisa kujaga, apalagi seekor kucing” piki Nayra disaat ia memiliki keinginan untuk bicara pada oangtuanya akan apa yang ia inginkan.
            Hari-hari ia lalui dengan penuh cerita. Ia selalu beusaha untuk merawat kucing dari jauh. Seperti memberi makan pada kucing yang ia jumpai. Saat makan di suatu rumah makan, aku melihat seekor kucing yang kurus dan merasa kelaparan. Mengeong dengan suara yang lantang. Bahkan ada seseoang yang menendangnya. Merasa tak menerima, akupun langsung beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri orang itu. “ Permisi, om kenapa nendang kucing itu? Kata Papa dia itu ciptaan Tuhan juga, sma sepeti om. Kasihan om” Ucapku smbil keluar menuju kucing itu. Untungnya ia mau dipegang. Tak lama, Kakakku kelua membawa kotak makan yang ada di tasnya dan mengisinya dngan nasi dan ayam yang ia makan. “ Ini dek, kasih ini aja. Biar kenyang” katanya sambil menyodorkan tempat makan itu. “ Makasih kak, entarNayra ambil lagi tempat makannya.” Kataku pada kakak.
            Setelah itu, aku kembali dan melanjutkan meghabiskan makananku. Aku datang dengan wajah yang sedih. Merasa kasihan pada kucing itu. Membayangkan aku berada di posisinya. Keluarga mencoba menghiburku dan menasihatiku agar tidak usah bersedih dan dipirkan. Saat pulang, tak sengaja aku melihat oang tadi yang menendang kucing itu, sedang memberikan minum pada kucing itu. Tak sengaja aku melihatnya dan ia membalik melihatku. “ Setelah makan, takut kesedak. Om kasih minum aja” ucapnya tanpa ekspresi. Tentu aku senang melihatnya.Terkadang aku merasa bangga terlahir diantara keluarga yang sangat menyayangi apapun itu yang  kita miliki.
            Waktu semakin tak terasa, keinginanku tetap ingin memiliki kucing.  Saat aku duduk di Bangku sekolah menengah pertama. Saat itu aku dan keluarga pindah ke Jawa karena Papa yang dipindah tugaskan.  Disana aku memiliki seekor kucing yang kuberi nama Lusy. Ia kucing pendatang. Dengan senang aku rawat dia. Karena halaman rumah yang luas dan banyak tanah diseitar tumbuhan,aku tidak repot membersihkan kotorannya. Sehari ia makan tiga kali. Pagi, siang dan malam.
            Tiba-tiba Lusy menghilang entah kemana. Sekitar dua minggu lamanya ia hilang. Saat kembalike umah, aku terkejut mendengar suara bayi kucing. Sesegera mungkin, aku keluar rumah dan melihat. Seekor kucing kecil yang dibawa Lusy. Ya, dia adalah anak dari lusy. Sungguh lucu rupanya. Kuberi ia nama Bubu. Semakin antusias merawat dan membesarkannya.
            Hal yang buruk pun terjadi. Bubu yang berusia sekitar lima bulan, harus siap ditinggalkan sang ibu, Lusy. Kejadiannya tragis, Lusy saat itu keluar rumah pada tengah malam. Aku mendengar suaranya mengeong seperti memanggil Bubu. Aku terbangun dan ditemani Mama keluar rumah untuk mengecek ada apa dengan Lusy. Lusy yang biasanya datang saat dipanggil, tak kunjung muncul. Kekhawatiranku semakin menjadi-jadi. Tetapi Mama menenangkanku dan mengajakku kembali tidur. Walaupun kutahu kalau Mama juga bingung. Karena Lusy sangat dekat dengan Mama.
            Paginya, tepat saat aku keluar dari gerbang rumah diantar Mama dan Papa. Papa yang saat itu sedng mengeluarkan mobil dan Mama yang merapikan rambutku dan Kakak. Saat aku menuju kursi depan mobil, sungguh terkejut melihat gumpalan darah segar di tengah jalan aya. “ Ma itu apa?” tanyaku pada Mama yang mengantarku masuk mobil. “ astaga,  itu siapa. Semoga bukan Lusy.” Ucap Mama khawatir.
            Sepulang sekolah, aku melihat Mama menangis. “ Mama kenapa?” tanyaku. “ Lusy meninggal sayang, tadi pagi yang Nayra lihat itu Lusy. Tadi Papa dan Mama lihat setelah Papa nganter kamu.” Jelas Mama. Tangisku tak bisa dibendung  lagi. Sedih rasanya. Teringat saat Lusy menemani Mama saat sakit.
            Setelah kepergian Lusy, Bubu melahirkan empat orang anak yang beragam warnanya. Sungguh lucu dan menggemaskan. Namun al serupa terjadi. Anak – anak Bubu yag masih berusia  sekitar empat bulan harus ditinggalkan oleh ibuny yang meninggal karena ditabrak. Untungnya ia diletakkan di pinggir jalan sehingga tubuhnya tak hancur seperti Lusy. Sehari sebelum Bubu meninggal, datang seekor kucing kecil yang kuberi nama Lily. Jadi keempat anak Bubu yakni, Momo, Miki, Beki, Boni, dan Lusy.
            Genap setahun, aku dan keluarga memutuskan pindah rumah ke daerah lain. Tentu kucing-kucing kecil yang kumiliki tetap kubawa ke rumah baru. Namun, Miki meninggal karena sakit.
            Diruma baru itu, dua kucingku menghilang. Keyakinanku akan mereka kembali sangat besar. Namun takdir berkata lain.mereka tak kunjung kembali. Mau tak mau aku harus relakan Boni dan Lily. Tak lama, seekor kucing cantik datang ke rumah dan menetap. Akhirnya kuberi nama Keke. Tiga bulan kemudian, Keke melahirkan tiga anak kucing. Kuberi nama Marco, eta, dan Duma. Momo, kucing keturunan yang masih hidup satu-satunya, melahirkan berkali-kali. Namun hanya bebeapa yang hidup. Sehingga kucingku  saat itu adalah Momo, Amber, tiga anak Momo, Keke, Marco, Reta, Duma, dan Kelly. Yap, sepuluh kucing.
            Genap dua tahun di Jawa, aku dan keluarga kembali ke Mataram. Terpaksa harus meninggalkan kesepuluh kucingku di Jawa. Untungnya ada seorang teman orangtuaku yang mau marawat mereka. Sedih sungguh sedih pastinya tapi aku harus ikhlas. Jika itu memang yang terbaik. Bahkan terpintas olehku untuk membawa mereka. Namun karena hukum dan ketetapan yang tak bisa diubah dengan apapun, terpaksa aku tinggalkan mereka di sana bersama orang lain. Hanya satu yang harus kulakukan yaitu ikhlas.
            Dua minggu setelah kembali ke Mataram, tanteku memberikan seekor kucing bernama cimi. Sugguh senang rasanya. Apalagi aku bisa mudah berkonsultasi dengan tanteku yang memiliki 20 ekor kucing dan telah memiliki dokter khusus untuk kucing.
            Cimi tiba dalam keadaan hamil. Dan tak lama, tiga ekor kucing datang. Lucky, ia seekor kucing yang baru saja dioperasi karena ia ditemukan dalam keadaan yang sangat miris, kulit telinga belakangnya terbuka entah karena apa, untung ia bertemu tanteku dan langsung dioperasi. Aku mearawatnya harus sabar, karena Lucky selalu ngiler. Tetapi lucunya, ia sangat suka dipangku, apalagi olehku. Ohiya, Lucky berwarna putih dan oranye, namun idominasi putih, wajahnya ganteng sebagai seekor kucing jantan. Selama tiga berada di rumah, Lucky tak pernah lepas dari obat dan dokter. Kondisinya memburuk saat ia memiliki bengkak di tenggorokkan. Ia bergantung pada obat dan dokter saat itu. Ia tak mau makan, dokter menyarankan untuk memberinya  cairan glukosa setiap tiga jam sekali.
            Bahkan aku biarkan dia tidur di kasurku sedangkan aku tidur di sofa dekat kasurku. Aku tak ingin ia tak nyaman selama ia sakit. Namun aku salut dengan Lucky, ia sanggup bertahan hidup walaupun dalam kondisi terburuk dalam hidupnya. Lucky bertahan selama sekitar dua minggu. Hal yang sangat membuatku terpukul adalah saat dua hari sebelum ia meninggal. Aku menemaninya di kasur, entah kenapa aku langsung nangis tersedu. “ hai Lucky ganteng sekali kamu. Cepet sembuh ya sayang, tapi kalau Lucky udah gak kuat, jangan dipaksa ya sayang. Teteh terima apapun yang terjadi sama Lucky. Nayra sayang Lucky.” Ucapku sambil menangis tersedu sedu.
            Mungkin itu pertanda bahwa Lucky akan meninggal. Detik-detik sebelum ia meninggal, aku kembali menangis saat melihatnya berada di sofa ditemani Mama. “ Nayra, kayakya Lucky bentar lagi gak ada nak.” Ucap Mama. Aku sepeti orang hanya terdiam dan melihat Lucky merasa kesakitan, nafasnya seperti orang yang terkena asma. Aku sangat ingat saat Luckyseperti mengambil nafas dalam-dalam lalu ia taak benafas lagi.
             Aku langsung pergi menuju kamar mandi dan  menangis. Akhirnya aku tahu ati akan keikhlasan, kesabaran, dan kasih sayang. Hingga detik ini saja aku belum seutuhnya move on dari kepergian Lucky. Rasanya kehilangan sekali. Karena baru kali ini aku benar-benar merawat seekor kucing yang mengalami kerasnya hidup. Tak tega rasanya jikalau yang aku rawat nanti adalah manusia.
            Tapi aku haru tersenyum, mungkin Lucky sudah enak disana, ia tidak lagi harus merasakan sakit yang ia rasakan selama hidup. Selain itu, aku masih punya Cimi, Jongguk, Cio, Cello, Kai, Chaplin, Nomu, Olif, Iren, Changmin,  dan Sven. Banyak memang tapi itulah keseruanku dalam hidup. Sehingga aku tak harus memikirkan galau karena tingkah lelaki. Sehari sebelum aku menulis cerpen ini, satu kucingku meninggal namanya Chiko. Ia meninggal tiba-tiba tanpa sakit attau apapun. Ia merupakan kucing yang manja dan cerewet. Keluagaku mengira karena pengaruh pancaroba dan renovasi rumah saat ini yang menimbulkan debu dan asap semen.
            Aku merasa kucingku tak pernah berkurang jumlahnya. Meskipun Lucky dan Chiko telah tiada, aku masih memiliki jumlah kucing yang sama, yakni sebelas ekor.
            Banyak sekali cerita yang kudengar mengenai perilaku orang – orang terhadap kucing. Ada yang kasar dan jahat, ada yang baik sekali hingga ia rela sakit karena terkena kotoran kucingnya saat ia membersihkan kotoran-kotoran kucingnya, ada yang sayang dengan kucing namun tak bisa memiliki karena terhalang ijin orangtua, bahkan ada juga orang yang tega menyiksa, membuang, bahkan membunuh tak lebih dari satu ekor kucing.
            Kisah yang sangat menyedihkan adalah saat Nayra menonton televisi dan kebetulan ada tayangan mengenai kucing. Kucing itu sangat setia pada majikannya. Ia dirawat sejak kecil oleh majikannya. Namun saat majikannya meninggal, kucing itu datang dengan sendirinya ke pemakaman dan membawa apapun yang bisa ia letakkan diatas makam majikannya. Pernah sesekali ia tertangkap oleh kamera seorang peziarah di pemakaman itu. Terlihat kucing itu membawa sehelai rumput di mulutnya dan berjalan menuju salah satu makam yang ditujunya, tentunya makam majikannya. Begitu setianya dia pada sang majikan. Nampak raut sedih diwajahnya saat fotonya dipampang di mana-mana.
            Selain kisah menyedihkan, ada juga kisah yang sangat – sangat miris, bahkan aku sampai kesal dibuatnya. Setega itukah dia pada makhluk Tuhan. Kisah ini merupakan kisah nyata. Ada seorang pria dan istrinya yang sangat jahat. Mereka tega menculik kucing siapapun. Lalu mereka menyiksanya dengan sangat sadis. Terbukti sat kucing tanteku hilang selama beberapa hari dan kembali pulang dengan keadaan lumpuh. Ia tak bisa berjalan, hanya menyeret – nyeret tubuhnya agar dapat kembali pulang. Tentu terkejut saat melihatnya. Aku sja yang mendengar ceritanya sudah sangat kasihan apalagi aku melihatnya.
            Kucing itu bernama Kimi, untungnya ia bertahan hidup. Selama berbulan-bulan ia melalui penyembuhan. Syukur ia dapat selamat. Namun ia mengalami cacat kaki bagian kiri. Tulangnya bengkok, sungguh jelas terlihat. Untungnya ia masih bisa berjalan dengan normal. Kimi memiliki trauma tersendiri, ia sama sekali tak mau dipegang, bahkan saat kita mendekat saja ia langsung lari ketakutan. Wajah takutnya sungguh jelas terlihat.
            Selain itu,pernah juga orang itu meletakkan karung misterius didepan rumah seseorang. Ia mengira itu hanya sampah.namun ia sangat ingin membukanya. Saat dibuka, uuhh tak tega lagi ia membukanya. Isi karung itu adalah seekor kucing yang telah dikerubungi belatung. “ Tuhan, apa maksut orang jahat itu? Mengapa ada orang sejahat ini?” pikirku dakam hati.
            Pemilik rumah itu takut jika ternyata kucing dalam karung itu adalah kucing miliknya yang telah lama menghilang. Namun ia tak mau berpikir panjang. Biarkan saja, mungkin kucing itu telah nyaman disana, tidak merasakan sakit lagi saat ia menghilang dan meninggal dengan cara seperti itu. Tak senonoh rasanya.
            Pernah juga orang hajaht ini tertangkap basah oleh tetangganya. ia berniat keluar rumah dan mengintip – intip keluar. Seperti takut ketahuan orang. Ia keluar perlahan menyelundup. Tetangganya yang telah berdiri disamping mobilnya depan halaman umahnya hanya tersenyum saat istri orang jahat itu menoleh ke arahnya. “ mati aku, ketangkap deh” mungkin itu yang ada di benak wanita itu. Tetangganya itu kebetulan memiliki banyak kucing dan sering sekali terjadi hal-hal buruk pada kucingnya. Ada menghilang tiba-tiba, pulang dengan keadaan tak sehat, bahkan sampai ada yang meninggal misterius.
            Setelah kejadian itu, sepasang suami istri ini merasa was-was karena telah tertangkap basah. Ada niatan tanteku dan Mamaku untuk melaporkan polisi atas apa yang terjadi. Namun kurangnya bukti membuat mereka mengurungkan niatnya dan berusaha mengumpulkan bukti.
            Terkadang aku heran, jahat sekali orang itu. Jika memang ia tak suka kucing, berusahalah untuk tidak menyakitinya. Biarkan saja atau ia pergi menjauh saat ada kucing didekatnya.
            Hal-hal seperti inilah yang membuatku gerah. Amarahku bahkan membara. Terpikir untuk membuat orang itu jera. Namun, lelah juga meladeni watak orang yang berbeda.
            Keinginanku adalah membuat penangkaran kucing saat aku mampu nanti. Sehingga tak ada kucing yang terlantar. Jika ada yang hendak membuang kucing, letakkan saja di penangkaranku. Aku ingin penangkaranku nanti memilikim fasilitas yang memadai dan ada pula fasilitas dokter untuk merawat yang sakit.
            Dari hewan kecil ciptaan Tuhan inilah akubisa belajar dan mengerti akan arti keikhlasan dan kesabaran. Kasih sayang yang tulus akan membuat kucing merasa aman. Makhluk kecil ini, dapat membedakan orang yang benar-benar sayang padanya dan orang yang tak sayang padanya. Meskipun terkadang menyebalkan, namun itulah imutnya mereka. Saat lelah pun asanya hilang saat melihat mereka menyambutku pulang.
            Hal yang bisa  kupetik dari merawat makhluk kecil ciptaan Tuhan  ini adalah keikhlasan, kesabaran, dan kasih sayang mereka yang mungkin menurut orang mereka tak memiliki kasih sayang. Padahal dari hewan kecil inilah aku bisa mengerti kasih sayang sesama melalui kucing ini, makhluk kecil ciptaan  Tuhan ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar